Kain Tenun Khas Batak, Awalnya Sebagai Sumber Kehangatan

Sumatera Utara bukan hanya memiliki Danau Toba sebagai ikon pariwisata. Suku Batak Toba juga memiliki kain tradisional yang melegenda berupa kain tenun khas Batak.

Publik terbiasa menyebutnya dengan "ulos". Selain dijadikan sebagai pakaian, ulos juga sering dijadikan hadiah seremonial karena kain ini menyimbolkan status Suku Batak.

Foto : Instagram abitkain

Bagi masyarakat setempat, menenun dianggap erat kaitannya dengan peran perempuan dalam merawat keluarga, anak, dan masyarakat.

Namun para wanita membuat kain tenun khas Batak biasanya saat waktu senggang saja. Hal ini menyebabkan selembar ulos bisa selesai cukup lama, bahkan bisa beberapa bulan.

Seiring berkembangnya kemajuan, saat ini dipakai peralatan modern untuk menghasilkan ulos, yakni ATM (alat tenun mesin).

Demikian juga dengan benang dan pewarnanya. Dulu, menggunakan benang kapas dan diwarnai dengan cara merendam benang ke dalam pewarna alami yang berasal dari tanaman.

Sekarang menggunakan benang jadi. Selain itu, banyak juga penenun yang lebih memilih pewarna sintetis untuk membuat kain ulos dengan harga yang lebih terjangkau.

Foto : Instahram abitkain

Kalau aslinya, warga menggunakan pewarna alami. Warna biru terbuat dari tanaman indigo, warna merah dari kayu secang dan mengkudu, warna kuning berasal dari kunyit, sedangkan hitam dihasilkan dengan mencampurkan mengkudu dengan indigo, serta hijau adalah campuran indigo dan kunyit.

Kain tenun khas Batak masih bisa kalian lihat di Desa  Tongging, Paropo dan Silalahi di pesisir barat laut Danau Toba.

Dari bentuknya, ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Ia melambangkan restu, kasih sayang dan persatuan.

Menurut kepercayaan suku Batak terdapat 3 sumber kehangatan yaitu matahari, api dan kain ulos. Ulos memiliki fungsi simbolik di segala aspek kehidupan orang Batak.


Foto : Instagram samosir_indah

Kain Tenun Khas Batak yang Populer

Berikut ini adalah beberapa jenis motif kain Ulos yang populer.

Ulos Mangiring
Memiliki corak yang saling beriringan dan bisanya dilukis dengan warna cerah. Motif ini sebagai simbol kesuburan dan kekompakan.

Ulos jenis ini pada umumnya diberikan kepada seorang anak yang baru lahir, terutama anak pertama.

Ulos Ragi Hidup
Kalau motif ini coraknya terdiri dari atas unsur badan, pinarhalak hana (pigura lelaki) dan pinarhalak boru-boru (pigura perempuan).

Penggunaannya pada upacara pernikahan, yakni orang tua pengantin perempuan akan mempersembahkan ulos ini kepada ibu pengantin pria.

Ulos Ragi Hotang
Ciri dari motif ulos yang satu ini ialah bagian tengah bermotif bintik-bintik sebagai lambang hotang (rotan) dengan benang katun dan benang emas.

Ulos jenis ini juga akan kalian jumpai saat acara pernikahan. Kain tenun khas Batam ini akan dipakai oleh pasangan pengantin.

Foto : Instagram abitkain

Kain Tenun Khas Batak Sumber Kehangatan

Dahulu, Suku Batak Toba hidup di pegunungan yang dingin. Hal ini mengakibatkan sinar matahari kurang mampu memberikan kehangatan terutama pada malam hari.

Maka warga pun berpikir untuk menciptakan sesuatu dapat memberikan kehangatan. Tak cuma hangat, namun juga memberikan keberanian kepada para pria dan kekuatan wanita dalam melawan kemandulan.

Maka lahirlah Kain Ulos sebagai produk budaya asli suku Batak Toba.

Ulos pada awalnya hanya digunakan sebagai kain biasa tetapi kemudian berkembang menjadi simbol cinta, kebutuhan upacara adat, dan simbol sistem tatanan masyarakat.

Bahkan saat ini Ulos dipercaya memiliki kekuatan magis religius sehingga dianggap ‘sakral’ dan memiliki kekuatan khusus untuk melindungi penggunanya.

Setelah membaca artikel ini, tidak lengkap rasanya kalau kalian ke Sumatera Utara tidak membeli kain tenun khas Batak ini sebagai buah tangan.

Semoga artikel Kain Tenun Khas Batak ini bermanfaat. ***

0 Response to "Kain Tenun Khas Batak, Awalnya Sebagai Sumber Kehangatan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel