Ragam Batik Truntum yang Memesona

aneka-batik-truntum

Pola Truntum yang dibuat oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) ini memiliki makna cinta yang tumbuh kembali.

Ia membuat pola ini sebagai lambang cinta yang ikhlas tanpa persyaratan, kekal, dan makin lama makin berasa subur berkembang (tumaruntum). Karena artinya, kain memiliki motif truntum biasa digunakan oleh orangtua pengantin di hari pernikahan.

Keinginannya ialah supaya kasih sayang yang tumaruntum ini akan menghinggapi ke-2 mempelai. Terkadang diartikan juga jika orangtua berkewajiban untuk "membimbing" ke-2 mempelai untuk masuk kehidupan baru.

Batik Truntum Ciri Khas Solo dan Jogja

1. Truntum Bunga Tanjung

Pola Truntum ciri khas Solo ini ialah batik yang dihias taburan bunga-bunga tanjung yang dahulu kerap bermekaran.

Barisnya sagat rapi dengan pelukisan yang diulangi, bukan pola abstrak atau campuran.

Kelihatannya Ratu Kuncoro atau Kanjeng Ratu Beruk di inspirasi dari cantiknya taburan bunga tanjung yang dahulu kerap bermekaran cantik ini.

Sekarang ini, pola bunga tanjung telah susah diketemukan di beberapa kota di Jawa Tnegah, khususnya Kota Surakarta.

2. Truntum Sogan Lengko

Secara garis besarnya, batik ini dapat diartikan sebagai kehidupan yang manis pasti tidak lepas dari dualisme dunia yaitu bungah (rasa senang)& sulit, padhang (jelas) dan peteng (gelap), sugih (kaya) dan mlarat (miskin), dan demikianlah seterusnya.

Disaksikan pelukisan design catat atau skema, pola truntum menunjukkan wujud bunga atau bintang yang jika disaksikan dari depan diposisikan pada sektor berupa kotak sisi empat.

3. Batik Truntum Gurda

Pola batik Truntum terbagi dalam bermacam catat seperti garuda, wahyu, kuncoro, sri kuncoro, dan ada banyak lagi.

Seperti batik truntum gurdo (garuda) di atas, yang umum dikenai dalam upacara atau acara pernikahan tradisi Jawa Solo dan Jogja.

Truntum Garuda ini digunakan oleh orangtua pengantin, yang memiliki kandungan filosofi sebagai arahkan atau membimbing.

Sebagai orang-tua tentunya mereka berkewajiban membimbing ke-2 calon yang akan masuk set baru di kehidupan yang penuh lika-liku.

4. Truntum Garuda Sogan

Batik truntum ini ialah kreasi cipta dari Ratu Kuncoro atau umum dikenali dengan panggilan Ratu Beruk, yaitu permaisuri dari Sri Paku Buwono ke-3.

Menurut riwayat yang terpublikasi, si Ratu yang sejauh hayat hidupnya disayangi dan diberlakukan spesial oleh Raja, berasa dianya sudah dilalaikan karena Raja dijumpai telah mempunyai pacar baru.

Nach, si Ratu juga berasa benar-benar bersedih hingga dia cari langkah untuk isi hilangkan rasa gundahnya itu pada si raja.

Ratu juga pada akhirnya pilih membatik.

Pada proses pembatikan itu, Ratu Kuncoro secara mengagetkan membuat pola yang seperti bintang-bintang kerlip di langit malam, yang rupanya jadi penyembuh lara untuk smenemaninya dalam ketersendirian sepanjang ini.

5. Truntum Lawasan Gabungan

Batik Truntum berisi pola berdasar dasar hitam dihias oleh tebataran bunga tanjung yang otomatis merepresentasikan bentuk bintang yang bertaburan pada malam hari.

Istilah truntum datang dari kosa kata Bahasa Jawa ‘tuntum'.

Disimpulkan sebagai ‘timbul kembali', ‘tumbuh kembali', atau ‘mekar kembali' yang terkait kuat dengan istilah rasa katresnan (rasa cinta) atau kasih sayang istri dan suami.

6. Truntum Sekar Jagad

Batik truntum sendiri terhitung kelompok barisan pola Ceplok yaitu datar dalam bingkai.

Sedangkang skema batik truntumnya memvisualisasikan sebuah serangkaian bintang atau bunga-bunga kecil yang menebar komplet dengan sari-sarinya.

7. Truntum Gurdho Lawasan

Kesabaran dan keuletan Ratu dalam membatik ternyata mengundang perhatian Raja, sampai di suatu hari dia mulai dekati Ratu kembali buat menyaksikan hasil pembatikannya.

Semenjak waktu itu, Raja putuskan selalu untuk mengawasi gerakan dan perubahan pembatikan yang sudah dilakukan oleh Ratu Beruk.

Tetapi rupanya, tidak diduga persaan cinta Raja dikit demi sedikit tumbuh kembali ke Ratu.

Karena pola yang dibatik oleh Ratu ini, cinta Raja tum-tum (bersemi atau mekar) kembali, hingga pola ini dinamakan atau panggilan ‘Truntum', yang menyimbolkan mekarnya cinta si Raja.

8. Truntum Sri Kuncoro

Sudah pasti, pola tuntum kuncoro ini didasari pada peranan dan manfaat kain jarik atau batiknya yang umum dikenai oleh ke-2 orang-tua calon mempelai di saat acara midodareni dan panggih pada acara pernikahan.

Jadi umumnya di tradisi Jawa, mereka beberapa tetua memakai pola batik truntum di saat menikahkan anak mereka dengan keinginan supaya rumah tangganya sakinah, mawada warahmah, abadi dan janganlah sampai terjadi pertikaiang apa lagi perpisahan di antara ibu dan ayah dalam niat memasangkan putra-putri mereka.

9. Truntum Kuncoro

Batik Truntum Sri Kuncoro menceritakan perjalanan kehidupan beberapa manusia, yang dilambangkan lewat ornament sulur menjalar dari sebatang pohon hayat.

Pohon ini sebagai lambang dari ada pohon di surga sebagai dasar muasal dari semua wujud konstruksi dan susunan kehidupan makhluk hidup di dunia.

Juga dikelompokkan ke beberapa pola seperti gunungan, kayon, syajaratul kaun, Pohon Kehidupan (Tree of Life) yang pernah kita dengar namanya dalam peradaban Persia kuno.

Batik classic sebagai realisasi asli dari yang pertama dan dibikin dengan pewarnaan malam alami.

Arti dari batik Truntum Sri Kuncoro ini berisi doa dan keinginan-harapan dari beberapa orang-tua supaya perjalanan kehidupan anaknya yang menikah selalu disanggupi rasa cinta dan kasih-sayang sampai capai kesempurnaan titik kuncoro (kesempurnaan).

10. Truntum Gurdo Bledak

Dalam pola ini diharap, untuk siapa saja yang menggunakan pola ini, karena itu didoakan selalu dalam kehidupan khususnya masalah keluarga.

Seperti; selalu terikat jalinan yang cantik, manis, serasi, penuh kasih-sayang, berlaku baik sama-sama suami isteri, jalinan yang bagus di antara anak dengan orangtua dalam keluarga besar, dan pada keluarga seseorang di keluarga sendiri dan khalayak luas di luar sana.

11. Truntum Wahyu Turun-turun temurun

Pola truntum wahyu turun-turun temurun sebagai salah satunya batik asal Yogyakarta dan telah ada semenjak tahun 1480.

Ornament makhkota dalam batik ini menunjukkan makna sebagai panduan.

Maka siapa saja yang menggunakannya mudah-mudahan diberi instruksi, panduan, dan karunia dari Tuhan Yang Maha Agung.

12. Truntum Peksi

Kemungkinan kamu menanyakan, "batik ini berasal darimanakah?" Truntum Peksi diisikan oleh ornament burung merak, yang mana sebagai lambang lokal ciri khas Jogja.

Burung merak menyimbolkan keelokan dan kecantikan yang terpancar murni dari wanita.

Makin memahami makin cinta ya sahabat batik. Alangkah kayanya negeri ini dengan corak batik. ***

0 Response to "Ragam Batik Truntum yang Memesona"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel